Feeds:
Tulisan
Komentar

ada pengumuman dari Telkom kalo youtube diblokir.. tapi tenang aja ada cara lain untuk masuk kesana. dan saya udah buktikan.

ini pengumumannya dari Telkom

NFORMASI PEMBLOKIRAN FILM FITNA

08 April 2008 09:10:28 ( Sys Admin TSDC )

Mohon maaf, untuk saat ini situs-situs dan blog yang memuat Film Fitna kami blokir atas permintaan Menteri Komunikasi dan Informasi No.84/M.KOMINFO/04/08 tanggal 2 April 2008.
Situs dan blog yang ditutup:
* Youtube
* MySpace
* Metacafe
* Rapidshare
* Multiply
* Liveleak
* Themoviefitna.com

Situs-situs dan blog tersebut tidak akan bisa diakses hingga ada pemberitahuan lebih lanjut.
Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.

Terimakasih

PT Telkom Indonesia Tbk.

Caranya? .. Cukup dengan :

Klik http://www.google.com/translate <http://www.google.com/translate>, nah dibagian bawah halaman itu, ada box dibawah tulisan “Translate a  Web Page”. Copy & paste link ke website yang diblok tsb (misal www.mamideven.multiply.com ) di box itu dan klik “Translate” .

Kalo pake cara Google translate masih belum tembus juga untuk login
Multiply..silahkan pake cara ini
:

Klik : http://www.youhide.com/ Copy & paste URL yang di blok ke search
box, klik “Submit” , kemudian silahkan ikuti prosedur login seperti biasa.

Nb : kalaupun misalnya suatu saat situs www.youhide.com juga ikut di blok
:-s <http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/15.gif> , silahkan
search aja situs semacam itu dengan Google search engine, masukkan kata
kunci : “Anonymous proxy”, nah keluarlah 1,360,000 pages yang bisa
dimanfaatkan untuk menembus blokiran tsb.

(sumber detik.com forum)

Tulisan Pertamaku…

Aku seorang ibu dari seorang anak lelaki bernama Filbert Deven Gavrila. aku jg seorang staff IT di sebuah perusahaan swasta yang bergerak dibidang otomotif. Aku sangat menikmati hidupku detik demi detik, menit demi menit… pokoknya hidup ini sangat indah. setelah aku berhasil memaknai apa arti hidup itu.. ehh kok ngelantur aku kan kasih judul di blog ini Resep Balita ya… nanti aku coba posting menu-menu simple balita, ada yang hasil buatan sendiri ada yang hasil mencari di mbah google. dan aku akan camtumkan jg deh sumbernya

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Gong Xi Fa Choi




walaupun ga merayakan gong xi fa chai. tapi perlengkapan gong xi fa coi nya deven lengkap banget. baju + topi. jadi foto2 deh buat taun baru ini hehehehe… terus kita jalan2 mendatangi tante yang melahirkan. bayinya lucu lho bobo terus.

gimana penampilanku dengan seragam gong xi-ku ini keren ga… mommy nihh payah ya ga bisa nulis2 di blog nulis2 jg.. dari dulu kata2nya cuma gimana gayaku gimana gayaku. udah deh mommy ga punya bakat nulis jangan nulis2 di blog khihkhihkhi. udah gitu naruh fotoku acak2an lagi.. huuuu mommy.. mommy

www.monikatanu.com

1. Think big
2. Be positive
3. Follow your passion
4. Learn something new every day
5. Listen to your gut
6. Be patient
7. Put a great team behind you
8. Put beauty in everything you do
9. Learn to negotiate, because everything you want demands it
10. Always go for the biggest win possible
11. Invest in real estate because it is the best investment there is
12. Take risks
13. Be audacious and get into the public eye
14. Be your own brand
15. Enjoy doing some work seven days a week and on vacations
16. Say no
17. Get out of your comfort zone
18. Be stubborn when necessary
19. Always have a Plan B
20. Never settle for second best

Ditengah maraknya berita mengenai bakteri Enterobacter Sakazakii yang mencemari berbagai produk susu formula dan makanan instan untuk bayi dan balita (yang hasil penelitiannya sebenar sudah dirampungkan oleh para peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan dilaporkan kepada BPOM sejak tahun 2006), Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menyerukan ajakan untuk kembali ke Air Susu Ibu (ASI) sebagai satu-satunya sumber nutrisi yang terlengkap dan terbaik untuk bayi dan balita.

Ketua AIMI Mia Sutanto dalam siaran persnya mengatakan, bukti yang menguatkan pernyataan tersebut semakin tak terbantahkan. “Nutrisi dan kalori yang terkandung di dalam ASI sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi, jadi tak perlu tambahan susu formula apapun” katanya di Jakarta, kemarin (26/2).

ASI mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air garam dan gula yang semuanya sudah secara khusus dikomposisikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing bayi. Lebih lanjut Mia menjelaskan, ASI mengandung sel-sel hidup yang berperan sebagai zat anti infeksi dan imunitas alami untuk melindungi bayi dari berbagai ancaman penyakit. “Tentu sel-sel hidup ini tidak ada dalam produk susu formula.” katanya.

Oleh karena itu, “Bicara mengenai keunggulan ASI dibandingkan dengan susu formula sudah pasti sangat banyak, selain dari segi kandungan dan kecukupan nutrisi, kemudian faktor imunitas atau perlindungan tubuh, juga dari segi kedekatan ibu dan anak (bonding) yang tak akan tertandingi oleh apapun,” tambahnya.

Mia kemudian melanjutkan, AIMI akan secara konsisten terus menyerukan kepada seluruh ibu-ibu di Indonesia untuk kembali memberikan ASI kepada bayinya. “Jangan mempertaruhkan masa depan bayi-bayi Indonesia dengan tidak memberikan ASI, yang sudah terbukti merupakan makanan yang paling bagus, paling lengkap dan paling higienis untuk dikonsumsi oleh bayi.”

Memberikan ASI sebagai satu-satunya nutrisi terbaik untuk bayi, lanjut Mia, memang membutuhkan persiapan khusus sejak masa kehamilan. “Namun semua proses persiapan untuk memberikan ASI bisa dilakukan dengan mudah karena bekal utamanya hanyalah pengetahuan yang memadai dan pikiran positif dan niat si ibu untuk memberikan ASI kepada bayinya serta dukungan dari keluarga dan masyarakat sekitar,” jelasnya.

Sesuai dengan rekomendasi WHO/UNICEF dan juga Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), untuk bayi harus diberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan pertama dan kemudian dilanjutkan dengan MPASI (makanan pendamping ASI) yang berkualitas. ASI diteruskan hingga 2 tahun atau lebih sesuai dengan keinginan ibu dan bayi.

Selanjutnya, karena ASI bisa memenuhi kebutuhan kalori sebesar 100% untuk bayi yang berusia 0-6 bulan, 70% untuk usia bayi 6-12 bulan dan 30% untuk usia anak diatas 12 bulan, maka pemberian susu tambahan setelah masa ASI Eksklusif juga tidak diperlukan. “Saat ini masih banyak ibu yang berpendapat bahwa setelah masa ASI Eksklusif pemberian susu formula untuk bayi diatas 6 bulan atau diatas 1 tahun menjadi kebutuhan wajib, padahal selama anak masih mendapatkan ASI hal tersebut tidak diperlukan,” tandasnya. Mia kemudian menambahkan bahwa, apabila karena sesuatu hal orangtua memilih untuk memberikan susu formula kepada bayinya, ada 3 hal yang perlu diingat, “Susu formula bukanlah produk yang steril, tidak ada satupun susu formula yang komposisi dan kualitasnya mendekati ASI, dan pemberian susu formula bukannya tanpa resiko,” tegasnya.

AIMI juga sangat menyayangkan pernyataan yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan RI Siti Fadilah Supari bahwa temuan IPB ini merupakan salah satu bentuk perang produk. “Sangat tidak pada tempatnya Menteri Kesehatan yang seharusnya menyikapi temuan ini dengan arif dan mencermatinya secara positif, malah mengeluarkan pernyataan prematur yang cenderung bersifat defensif dan memihak pada produsen susu formula dengan mendiskriditkan temuan tersebut,” tegas Mia. Seharusnya dalam kapasitasnya sebagai Menteri Kesehatan, tujuan utamanya adalah melindungi kepentingan masyarakat (bukan kepentingan pengusaha) dengan segera menindaklanjuti temuan tersebut dan selanjutnya mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mencegah timbulnya keresahan serta terjadinya kerugian yang lebih besar pada masyarakat. *******

Contact Person AIMI:

Mia Sutanto, Ketua

mia.sutanto@aimi-asi.org

HP: 0815 1000 2584

Yuyuk Andriati, Divisi Komunikasi

yeye@aimi-asi.org

HP: 0811 971509

Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)

Graha MDS Lt.3

Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34

Jln. RS Fatmawati No. 39 Jakarta

www.aimi-asi.org

AIMI : Kembali ke ASI sebagai Nutrisi Terbaik untuk Bayi

Ditengah maraknya berita mengenai bakteri Enterobacter Sakazakii yang mencemari berbagai produk susu formula dan makanan instan untuk bayi dan balita (yang hasil penelitiannya sebenar sudah dirampungkan oleh para peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan dilaporkan kepada BPOM sejak tahun 2006), Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menyerukan ajakan untuk kembali ke Air Susu Ibu (ASI) sebagai satu-satunya sumber nutrisi yang terlengkap dan terbaik untuk bayi dan balita.

Ketua AIMI Mia Sutanto dalam siaran persnya mengatakan, bukti yang menguatkan pernyataan tersebut semakin tak terbantahkan. “Nutrisi dan kalori yang terkandung di dalam ASI sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi, jadi tak perlu tambahan susu formula apapun” katanya di Jakarta, kemarin (26/2).

ASI mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air garam dan gula yang semuanya sudah secara khusus dikomposisikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing bayi. Lebih lanjut Mia menjelaskan, ASI mengandung sel-sel hidup yang berperan sebagai zat anti infeksi dan imunitas alami untuk melindungi bayi dari berbagai ancaman penyakit. “Tentu sel-sel hidup ini tidak ada dalam produk susu formula.” katanya.

Oleh karena itu, “Bicara mengenai keunggulan ASI dibandingkan dengan susu formula sudah pasti sangat banyak, selain dari segi kandungan dan kecukupan nutrisi, kemudian faktor imunitas atau perlindungan tubuh, juga dari segi kedekatan ibu dan anak (bonding) yang tak akan tertandingi oleh apapun,” tambahnya.

Mia kemudian melanjutkan, AIMI akan secara konsisten terus menyerukan kepada seluruh ibu-ibu di Indonesia untuk kembali memberikan ASI kepada bayinya. “Jangan mempertaruhkan masa depan bayi-bayi Indonesia dengan tidak memberikan ASI, yang sudah terbukti merupakan makanan yang paling bagus, paling lengkap dan paling higienis untuk dikonsumsi oleh bayi.”

Memberikan ASI sebagai satu-satunya nutrisi terbaik untuk bayi, lanjut Mia, memang membutuhkan persiapan khusus sejak masa kehamilan. “Namun semua proses persiapan untuk memberikan ASI bisa dilakukan dengan mudah karena bekal utamanya hanyalah pengetahuan yang memadai dan pikiran positif dan niat si ibu untuk memberikan ASI kepada bayinya serta dukungan dari keluarga dan masyarakat sekitar,” jelasnya.

Sesuai dengan rekomendasi WHO/UNICEF dan juga Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), untuk bayi harus diberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan pertama dan kemudian dilanjutkan dengan MPASI (makanan pendamping ASI) yang berkualitas. ASI diteruskan hingga 2 tahun atau lebih sesuai dengan keinginan ibu dan bayi.

Selanjutnya, karena ASI bisa memenuhi kebutuhan kalori sebesar 100% untuk bayi yang berusia 0-6 bulan, 70% untuk usia bayi 6-12 bulan dan 30% untuk usia anak diatas 12 bulan, maka pemberian susu tambahan setelah masa ASI Eksklusif juga tidak diperlukan. “Saat ini masih banyak ibu yang berpendapat bahwa setelah masa ASI Eksklusif pemberian susu formula untuk bayi diatas 6 bulan atau diatas 1 tahun menjadi kebutuhan wajib, padahal selama anak masih mendapatkan ASI hal tersebut tidak diperlukan,” tandasnya. Mia kemudian menambahkan bahwa, apabila karena sesuatu hal orangtua memilih untuk memberikan susu formula kepada bayinya, ada 3 hal yang perlu diingat, “Susu formula bukanlah produk yang steril, tidak ada satupun susu formula yang komposisi dan kualitasnya mendekati ASI, dan pemberian susu formula bukannya tanpa resiko,” tegasnya.

AIMI juga sangat menyayangkan pernyataan yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan RI Siti Fadilah Supari bahwa temuan IPB ini merupakan salah satu bentuk perang produk. “Sangat tidak pada tempatnya Menteri Kesehatan yang seharusnya menyikapi temuan ini dengan arif dan mencermatinya secara positif, malah mengeluarkan pernyataan prematur yang cenderung bersifat defensif dan memihak pada produsen susu formula dengan mendiskriditkan temuan tersebut,” tegas Mia. Seharusnya dalam kapasitasnya sebagai Menteri Kesehatan, tujuan utamanya adalah melindungi kepentingan masyarakat (bukan kepentingan pengusaha) dengan segera menindaklanjuti temuan tersebut dan selanjutnya mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mencegah timbulnya keresahan serta terjadinya kerugian yang lebih besar pada masyarakat. *******

Contact Person AIMI:

Mia Sutanto, Ketua

mia.sutanto@aimi-asi.org

HP: 0815 1000 2584

Yuyuk Andriati, Divisi Komunikasi

yeye@aimi-asi.org

HP: 0811 971509

Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)

Graha MDS Lt.3

Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34

Jln. RS Fatmawati No. 39 Jakarta

www.aimi-asi.org

AAA… AAA… KUUU…

sumber : http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=09459&rubrik=prasekolah

Duh, bicaranya, kok, gagap. Kasihan, si anak pasti tak nyaman.

Di usia prasekolah, anak seharusnya sudah lancar berbicara. Namun tak
jarang, ada anak usia ini yang bicaranya gagap (stuttering). Banyak
sekali kemungkinan penyebabnya meski penyebab utamanya sendiri tidak
diketahui pasti (lihat boks “4 Penyebab”). Yang jelas, gagap tidak
berhubungan dengan tingkat kecerdasan seseorang. Anak yang gagap umumnya
normal, karena gagap bukan disebabkan oleh proses fisik produksi suara
atau proses penerjemahan pikiran menjadi kata.

Gagap merupakan suatu gangguan bicara dimana aliran bicara terganggu
tanpa disadari dengan adanya pengulangan dan pemanjangan suara, suku
kata, kata atau frasa, serta jeda atau hambatan tak disadari yang
mengakibatkan gagalnya produksi suara. Kalau dalam komunikasi, gagap
merupakan salah satu gangguan irama kelancaran (disritmia) dalam tatanan
ujaran.

Sebenarnya, gagap-tidaknya seorang anak sudah bisa dideteksi sejak fase
true speech (bicara benar) di usia 18 bulan (lihat boks “5 Tahap
Perkembangan Bicara & Bahasa”). Kegagapan ini akan tampak jelas di usia
4-5 tahun, karena pada usia ini seharusnya perkembangan bahasa anak
sudah baik, pemahamannya sudah bagus, pembentukan kalimat, bahasa
ekspresif, dan kelancaran bicaranya juga sudah bagus, serta sosialisasi
anak pun sudah lebih luas.

Kondisi gagap pada anak bervariasi dari yang ringan sampai berat. Pada
gagap yang berat, selain sulit atau bahkan tak mampu mengucapkan kata
dengan huruf awal b, d, s, dan t, juga sering kali diikuti oleh gerakan
berulang pada bagian tubuh yang tak bisa dia kendalikan. Namanya tics,
yang terjadi pada wajah atau gerakgerak kecil pada bagian punggung yang
berulang dan tak terkendali. Gerakan ini merupakan representasi
perjuangan dari dalam dirinya (internal) yang berat untuk dapat
berbicara lancar. Napasnya pun relatif lebih cepat. Serangan gagap ini
dapat terjadi setiap saat dan pada situasi-siatuasi tertentu seperti
harus berbicara di hadapan orang-orang yang dianggapnya memiliki
kelebihan daripada dirinya.

Sementara pada gagap yang ringan, anak dalam keadaan tertentu dapat
bicara normal dan lancar saat sedang sendiri, berbisik, menyanyi, dan
di antara orang-orang yang dia anggap lebih rendah posisi atau usianya
dibanding dirinya. Serangan gagap bisa dialami bila ia merasa malu,
rendah diri atau terlampau menyadari kondisi dirinya.

Gagap tidak akan berlanjut sampai dewasa bila anak diterapi dengan baik
dan segera. Selain juga dibutuhkan dukungan dari lingkungan keluarga dan
sekitarnya. Kecuali jika penyebabnya adalah herediter (keturunan), ada
kemungkinan agak sulit untuk dihilangkan. Begitu pun bila tingkat
keparahannya ringan namun tidak ditangani dengan baik. Segera
konsultasikan anak ke ahlinya. Untuk masalah kecemasannya bisa
dikonsultasikan ke psikolog, masalah wicaranya ke terapis wicara, dan
masalah performance/kinerjanya ke terapis okupasi.

4 PENYEBAB

1. Keturunan atau herediter.

Sebagian kecil gagap disebabkan faktor keturunan yang berarti anak
membawa disposisi kondisi saraf yang membuat mereka rentan sulit bicara.
Bila kedua orangtua sehat dan normal dalam bicara, tetapi ada salah
seorang paman atau kakek yang gagap, anak membawa predisposisi
kerentanan ini.

2. Faktor saraf.

Beberapa pakar dalam ilmu saraf berpendapat, adanya gangguan saraf
menyebabkan gangguan koordinasi dari fungsi motorik untuk bicara.
Gangguan saraf ini bisa disebabkan luka otak akibat proses persalinan
yang sulit. Bisa juga karena kepala anak pernah terbentur, anak pernah
kejang, atau pernah menderita infeksi serius, dan lainnya. Pada saat
tersebut, terjadi proses penurunan kekuatan fungsi saraf secara
menyeluruh.

3. Faktor emosi atau kecemasan.

Gagap bisa terjadi pada situasi-situasi tertentu terutama saat ada
kecemasan. Pada saat bicara dalam situasi tersebut, terjadi spasmodik
atau pemblokan suara terutama pada kata yang berawalan huruf b, d, s,
dan t, yang butuh adanya penekanan. Jadi, gagap di sini bukan gangguan
dalam organ bicara, melainkan representasi kondisi ketidakmatangan emosi
yang tercerminkan pada gangguan berbicara. Biasanya ini dialami oleh
anak-anak yang kurang percaya diri atau memiliki self esteem yang
rendah.

4. Faktor gangguan simetri otak.

Proses pematangan otak terjadi sampai usia anak 2 tahun. Di usia 2-3
tahun sudah bisa dikenali mana bagian otak anak yang dominan. Bila
anaknya berbakat kidal, orangtua mungkin masih bisa membenahinya di usia
ini. Jika sudah lewat 3 tahun dan orangtua memaksakan anak melakukan
kegiatan dengan tangan kanannya maka akan terjadi perubahan pada sistem
kerja otaknya sehingga terjadi ketidakseimbangan yang membuat anak
gagap.

5 TAHAP BICARA & BAHASA

Perkembangan bicara dan bahasa pada anak terbagi dalam 5 tahap yang
harus menjadi perhatian orangtua, yaitu:

1. Reflexive vocalization

Pada usia 0-3 minggu, suara-suara atau tangisan yang dihasilkan bayi
masih berupa refleks belaka yang tanpa disadari, tanpa kehendak atau
bukan suatu respons atas lingkungan. Di atas usia itu barulah
tangisannya bisa dibedakan apakah karena lapar dan sebagainya.

2. Babbling

Usia di atas 3 minggu sampai 2 bulan, anak mengeluarkan bunyi-bunyian
seperti orang berkumur-kumur dengan nada dan kenyaringan yang
berbeda-beda.

3. Lalling

Terjadi pada usia 2 bulan sampai 6 atau 7 bulan. Bayi mulai banyak
mendengar dan bisa mengulang-ulang suku kata, seperti ba… ba…, ma…
ma…, dan sebagainya.

4. Echolalia

Sejak usia 10 bulan si kecil sudah mendengar bunyi-bunyi dari
lingkungannya, kemudian ia mencoba menirukannya-ia melakukan peniruan
dan pengulangan bunyi dari usia sebelumnya -disertai dengan ekspresi
wajah dan isyarat tangan. Jadi sudah ada penggunaan alat komunikasi lain
untuk memperjelas maksud yang ingin disampaikannya.

5. True Speech atau bicara benar.

Umumnya anak sudah bicara secara benar di usia 18 bulan atau 1;6 tahun.
Maksudnya, pola bicara anak sudah dimengerti, meski kemampuan
artikulasinya belum memadai. Anak sudah mampu mengucapkan rangkaian kata
atau membentuk kalimat.

5 KIAT TANGANI KEGAGAPAN ANAK

1. Carilah faktor kemungkinan penyebabnya.

Terapis akan mencari tahu, apakah ada faktor keturunan, atau karena
emosi, dan gangguan saraf. Biasanya untuk mengetahui adanya kemungkinan
faktor saraf ini dilakukan pemeriksaan EEG (dirujuk ke dokter ahli saraf
anak). Bila yang terlihat adalah faktor kecemasan, tes dilakukan dengan
memberikan stresor-stresor tertentu, salah satunya diminta
mengulang-ulang kalimat. Hal ini untuk melihat bagaimana tingkat
keparahan gagapnya. Orangtua pun harus menyadari kapan muncul gagap pada
anaknya. Semakin sering frekuensinya semakin mengindikasikan
keparahannya.

2. Dilakukan terapi.

Jika telah diketahui kemungkinan penyebabnya maka dilakukan terapi untuk
menghilangkan gagapnya. Umumnya dilakukan terapi kognitif dan perilaku
(behavior) serta relaksasi saat anak berhadapan dengan kecemasan.

3. Tingkatkan self esteem anak.

Untuk meningkatkan self esteem anak, diperlukan peran guru dan
teman-temannya, serta orangtua dan anggota keluarga lainnya. Peran
lingkungan tersebut amat penting bagi kemajuan anak gagap. Beri
pengertian kepada guru dan teman-temannya (tentu tanpa sepengetahuan
anak) untuk tidak mengejeknya tetapi bersikap biasa saja. Hal ini sangat
membantu memulihkan rasa percaya dirinya.

4. Beri banyak reward positif.

Dalam mengeliminasi gagap anak, orangtua disarankan untuk tidak
memberlakukan hukuman, melainkan menggunakan banyak reward serta
motivasi. Bentuknya bisa berupa pujian dan kesenangan ketika anak
berhasil mengerjakan suatu tugas. Pelaksanaannya tergantung pada anak
karena masing-masing berbeda. Dengan reward ini diharapkan anak
termotivasi dan memiliki rasa percaya diri serta self esteem yang baik.

5. Hindari faktor kecemasan.

Secara bertahap, hindari faktor yang memungkinkan anak cemas. Umpama,
anak cemas bila harus bercerita di depan teman-temannya. Nah, orangtua
bisa melatih anak dengan memintanya bercerita di depan orangtuanya
sebelum dia melakukan tugas bercerita di hadapan teman-temannya. Bisa
juga guru di kelas membantu anak saat bercerita di depan kelas dengan
cara melakukan dialog atau memberikan tanya jawab akan pengalaman anak
yang ingin diceritakannya, sehingga anak tidak terlalu cemas. Hindari
pula anak dari situasi yang memberinya tekanan. Contoh, orangtua jangan
mengatakan, “Kalau ngomong jangan gagap, ya, Mama enggak suka.” Tekanan
pada anak akan memperburuk kondisi gagapnya.

6. Lakukan dengan relaks.

Ketika anak berbicara, mintalah dia untuk melakukannya perlahan-lahan
dan tenang. Kelancaran bicara tidak harus cepat tapi perlahan namun
pasti. Terapi dilakukan secara bertahap, dari perlahan sampai cepat.
Lakukan relaksasi, misalnya dengan mengajaknya menyanyi, membaca puisi,
dan bermain peran yang sarat dialog. Biasanya pada tingkat ringan, gagap
tidak muncul saat anak relaks. Berikan lagulagu kesukaannya untuk
dinyanyikan dan dihafalkan agar dapat diulang-ulang. Lanjut Baca »

19 TRIK MENDISIPLINKAN ANAK



Memiliki anak-anak yang punya kedisiplinan tinggi, memang cita-cita semua orangtua. Namun, adakalanya orangtua kesulitan “menjinakkan” anak-anak mereka. Agar jagoan cilik Anda mau mematuhi segala aturan yang ada di rumah, ikuti 10 trik berikut ini.

Sering kali, orangtua terus berkutat dengan masalah kedisiplinan yang idealnya selalu dipatuhi anak-anak. Orangtua terkadang harus memaksa anak-anaknya untuk disiplin di rumah, menghormati orangtua, bicara dengan nada yang santun, rajin belajar, tidur siang tepat waktu, yang intinya mengatur semua gerak-gerik Si Kecil.

Namun, harus tetap ingat, kedisiplinan yang Anda maksud tak hanya melakukan koreksi pada tingkah laku anak-anak saja. Tapi juga mengajarkan kepada mereka cara untuk bisa mengontrol dirinya, serta peduli akan lingkungannya, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi orang yang berhasil di kemudian hari.

Untuk itu, ada beberapa pendekatan yang dapat Anda lakukan untuk membantu anak-anak mendisiplinkan dirinya.

1. Tegas
Jika Anda melarang anak-anak untuk tidak melakukan sesuatu, buatlah alasan-alasan yang masuk akal, dengan memberikan penjelasan dan bimbingan padanya. Anak jaman sekarang pasti tidak akan mau menerima alasan seperti, “Jangan duduk di depan pintu, pamali!” Atau, “Jangan main terlalu sore, nanti diculik Kalong Wewe!” Beritahu alasannya, kenapa dia tidak boleh duduk di depan pintu atau bermain sore-sore, menjelang malam.

2. Jangan Plin Plan
Pada dasarnya, Si Kecil akan meniru apa yang orang dewasa lakukan. Begitu pun jika Anda dan pasangan bertindak plin-plan terhadap suatu keputusan. Misalnya, Anda tak setuju dia melompat-lompat di tempat tidur, sementara pasangan Anda membiarkannya. Hal ini hanya akan membuat dia bingung, akibatnya dia jadi mengabaikan ketidaksetujuan Anda. Jadi, buatlah kesepakatan keputusan dengan pasangan agar anak-anak jadi mudah dalam bersikap.

3. Kompromi
Anak-anak tak selalu bisa mengatasi dan membedakan antara persoalan yang besar dan kecil. Sesekali, berkompromi dan mengertilah diri mereka. Tindakan kompromi akan membuat anak-anak menjadi lebih mudah menghadapi persoalan yang lebih besar nantinya. Misalnya, jika dia lalai menengok ke kiri-kanan saat akan menyeberang jalan, lain kali dia tak akan begitu lagi. Jika Anda keberatan dengan sikapnya, nyatakan dengan jelas. Misalnya, “Berhentilah melempar-lempar mainanmu, Nak!” Tapi, jangan katakan, “Hei, mainannya jangan dilempar-lempar, dong!”

4. Beri Bimbingan
Jika anak Anda mengobrak-abrik buku dari lemari yang ada di ruang keluarga, katakan saja, “Maukah kamu berhenti ‘bermain’ buku? Baca saja, ya di kamarmu?” Jika dia tak memedulikan perkataan Anda, dengan cara yang lembut namun tegas, Anda bisa membimbingnya ke kamar dan katakan padanya, dia boleh kembali ke ruang keluarga jika mau mendengarkan kata-kata Anda.

5. Beri Peringatan
Jika anak tahu aturan yang telah Anda buat, pada usia tertentu, Anda hanya perlu bertanya padanya, ketika melakukan pelanggaran. Dia akan langsung merasa segan pada Anda, karena ada konsekuensi atau sanki yang harus diterimanya segera, setelah pelanggaran dibuat. Jika Anda terbiasa membuat batasan peringatan sampai hitungan 5, kali ini kurangi sampai hitungan ke 3, sehingga anak akan belajar untuk segera mengubah sikap setelah diberi peringatan.

6. Beri Alasan
Jika anak bermain-main dengan benda tajam, Anda tentu harus lebih berhati-hati memperingatinya. Terangkan dengan bahasa yang jelas dan sederhana, apa yang akan Anda lakukan dan sebutkan alasannya. Misalnya, “Mama simpan pisaunya ya, Sayang, nanti bisa melukai tanganmu!” Atau, “Mama minta kamu jangan main air ya, nanti lantainya jadi licin dan bisa bikin kamu terjatuh.”

7. Jangan Tunda Hukuman
Jika Anda ingin menghukum anak yang tidak disiplin, hukumlah segera setelah Anda tahu dia tidak disiplin. Jangan sampai Anda menunda memberi hukuman padanya. Sebab, anak-anak tidak akan mau menerima hukuman beruntun atau mengulangi kesalahan. Berilah hukuman yang mendidik, seperti menyapu lantai, merapikan tempat tidur, tidak main play station atau barbie, atau membersihkan kamar mandi.

8. Tetap Tenang
Marah sambil berteriak, membentak, atau menceramahi anak tanpa henti, akan membuat Anda menjadi orang yang melakukan tindak kekerasan verbal terhadap anak. Tindakan ini justru bisa merusak rasa penghargaan diri pada anak Anda. Akibatnya, anak jadi tidak memiliki rasa pede di ahdapan orangtuanya.

9. Bertekuk Lutut
Menunduklah saat berbicara pada Si Kecil, terutama saat memberi kritikan padanya. Tekuklah lutut Anda atau ambil posisi duduk di hadapnnya, agar pandangan mata Anda sejajar dengannya. Dengan sikap seperti ini, Anda tak perlu merasa khawatir akan kehilangan respek darinya. Justru sebaliknya, dia akan semakin menghormati dan menghargai Anda sebagai orangtua.

10. Jangan Ceramah
Ajaklah Si Kecil ngobrol dan berdiskusi, dari pada diceramahi panjang lebar. Meskipun tampaknya pernyataan ini tidak bernada keras, seperti, “Sudah berkali-kali Mama bilang …” Atau, “Setiap saat kamu kok …”, tetap memberi kesan seolah-olah dia ditakdirkan untuk selalu mengecewakan Anda, apapun yang dia perbuat.

Cobalah gulirkan pertanyaan-pertanyaan seperti, “Merokok, kan, enggak baik untuk anak-anak, ya?” Atau, “Apakah kamu suka jika temanmu mengganggu terus di sekolah, Nak?” Kritiklah sikapnya, jangan salahkan dirinya.

11. Tunjukkan Sikap Positif
Terlalu banyak waktu Anda yang terbuang jika hanya mengkritik sikap buruk Si Kecil. Sebaliknya, Anda jadi kekurangan waktu untuk memberinya pujian atas sikap positifnya. Ada kalanya, sesekali Anda perlu mengucapkan, “Mama senang, lho, lihat kamu membereskan mainan dan menyimpannya di tempat semula.”

12. Bermain Bersama
Jika sempat, tak ada salahnya Anda meluagkan waktu sebenatr dan ikut bermain-main denganyya. Buatlah permainan bernuansa perlombaan semacam “siapa cepat dia dapat.” Permainan ini akan melatih anak Anda bertindak cepat setelah ada aba-aba dari Anda, atau yang dia ucapkan sendiri.

13. Hindari Rasa Jengkel
Belajarlah untuk memaklumi hal-hal yang bisa memicu anak kesal dan jengkel. Umumnya, perasaan tidak nyaman ini dialami anak-anak saat dia sedang kelelahan, saat Anda terlalu menuntutnya berbuat lebih, saat dia lapar, dan saat dia sakit. Minimalisasi kondisi-kondisi yang membuatnya tidak nyaman ini untuk mengurangi kejengkelan pada anak.

14. Jangan Menampar!
Tamparan keras yang Anda berikan di wajahnya, akan berpengaruh buruk bagi diri anak, juga Anda. Anak yang pernah ditampar orangtuanya akan merasa lebih menderita, dari pada perasaan tidak dihargai atau depresi sekalipun. Tindakan ini pun sekaligus bisa mengajarkan, secara tidak langung pada anak, untuk menyelesaikan segala persoalan dengan cara kekerasan.

15. Jangan Menyuap
Jangan membiasakan memberi uang atau hadiah kepada anak saat Anda memintanya untuk mengerjakan atau melarang sesuatu. Kebiasaan seperti ini bisa membuat anak jadi tidak mau mengerjakan atau menghindari sesuatu, jika belum diberi uang atau hadiah.

16. Bersikap Dewasa
Bersenda gurau dengan cara melucu berlebihan, dengan menggigiti atau menarik-narik rambut anak Anda, untuk menunjukkan rasa sayang, merupakan tindakan yang salah. Bersikaplah sewajarnya, sebagai orang dewasa seperti menggenggam tangannya, memeluknya, atau memberi ciuman di kedua pipi atau kepalanya.

17. Hadapi Rengekan
Katakan kepada anak-anak untuk tidak merengek saat meminta sesuatu dan tegaskan pula, Anda tidak akan mengabulkan permintaannya jika disampaikan dengan cara merengek atau menangis. Kecuali, jika dia meminta sesuatu dengan sikap yang manis dan sopan.

18. Contoh Baik
Jika suatu kali anak Anda pernah memerogoki Anda sedang berdebat dengan pasangan tanpa menggunakan kekerasan, dia akan meniru sikap baik itu. Tapi, jika Anda dan pasangan bertengkar dengan saling menghina, memukul, atau berteriak, anak Anda akan meniru sikap-sikap buruk itu di kemudian hari.

Dari 18 trik di atas, yang terpenting, Anda harus mengerti terlebih dulu kondisi anak-anak. Berusaha untuk membuatnya menjadi lebih disiplin, tanpa memahami bagaimana dan apa yang dia lakukan, sama halnya seperti menuangkan sirup ke dalam botol tertutup. Dengan kata lain, percuma saja dan hanya akan memperburuk keadaan di kemudian hari.

Hubungan dan komunikasi yang baik dengan anak memang sangat perlu dilakukan. Yang bisa Anda lakukan segera untuk mengatasi masalah ini, yaitu Anda hanya perlu bertanya kepada anak, apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa dia berbuat begitu. Pada beberapa kasus, anak-anak dapat berterus terang tentang masalahnya kepada orangtua. Namun, jika dia tak mau berterus terang, sementara Anda tidak mempunyai cara lain untuk bertindak, tetaplah berpikir positif

Jangan Serakah

Keluaran 16:13-16; Bilangan 11:31-34

13. Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung puyuh yang
menutupi perkemahan itu; dan pada waktu pagi terletaklah embun
sekeliling perkemahan itu.
14 Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan
padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik,
halus seperti embun beku di bumi.
15 Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang
kepada yang lain: “Apakah ini?” Sebab mereka tidak tahu apa itu.
Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Inilah roti yang diberikan
TUHAN kepadamu menjadi makananmu.
16 Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang
menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk
seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa.”

Bilangan 11:31

31. Lalu bertiuplah angin yang dari TUHAN asalnya; dibawanyalah
burung-burung puyuh dari sebelah laut, dan dihamburkannya ke atas
tempat perkemahan dan di sekelilingnya, kira-kira sehari
perjalanan jauhnya ke segala penjuru, dan kira-kira dua hasta
tingginya dari atas muka bumi.
32 Lalu sepanjang hari dan sepanjang malam itu dan sepanjang
hari esoknya bangkitlah bangsa itu mengumpulkan burung-burung
puyuh itu — setiap orang sedikit-dikitnya mengumpulkan sepuluh
homer –, kemudian mereka menyebarkannya lebar-lebar sekeliling
tempat perkemahan.
33 Selagi daging itu ada di mulut mereka, sebelum dikunyah,
maka bangkitlah murka TUHAN terhadap bangsa itu dan TUHAN memukul
bangsa itu dengan suatu tulah yang sangat besar.
34 Sebab itu dinamailah tempat itu Kibrot-Taawa, karena di
sanalah dikuburkan orang-orang yang bernafsu rakus.

Nats: Dinamailah tempat itu Kibrot Taawa, karena di sanalah
dikuburkan orang-orang yang bernafsu rakus (Bilangan 11:34)

Judul:
JANGAN SERAKAH!

Suatu kali seorang pemilik tanah berujar kepada seorang pria yang
ingin memiliki tanah yang luas, demikian, “Anda akan mendapatkan
tanah seluas daerah yang mampu Anda kelilingi sebe-lum matahari
terbenam. Jika Anda berha-sil mengelilingi 40 hektar, Anda
mendapat-kan 40 hektar. Jika Anda mampu me-ngelilingi 50 hektar, Anda
mendapatkan 50 hektar.” Tanpa buang waktu, orang ini segera berlari
sekuat tenaga. Ia terus berla-ri, dari pagi hingga petang, sampai
akhir-nya dengan terhuyung-huyung ia berkata kepada pemilik tanah
itu, “Saya dapat, saya dapat 500 ribu meter persegi.” Namun seketika
ia roboh, dan mati.

Hal yang sama juga dialami bangsa Israel ketika mendapat manna dan
burung puyuh. Tuhan memerintahkan agar mereka mengambil secukupnya
saja (Keluaran 16:16), tetapi banyak dari mereka yang serakah dan
mengambil lebih dari yang seharusnya. Ini membuat Tuhan marah,
sehingga mereka yang serakah mati kena tulah di tempat yang diberi
nama “Kibrot Taawa”, yang berarti Kuburan Orang Serakah.

Keserakahan tidak akan membuat hidup kita semakin kaya, keserakahan
justru akan membuat jiwa kita miskin dan akhirnya menghancurkan kita.
Mungkin secara materi kita semakin kaya, tetapi apa arti semuanya itu
jika kita mengabaikan keluarga, pelayanan, dan diri kita? Jika
dituruti, keserakahan tidak akan pernah ada habisnya. Dari sedikit
ingin banyak, dari banyak ingin lebih banyak lagi. Semua itu baru
berhenti, setelah keserakahan itu menghancurkan semua hal di hidup
kita. Mari kita belajar untuk mencukupkan diri, sehingga kita punya
banyak waktu tidak hanya untuk mencari, tetapi juga untuk menikmati
— PK

BERIKANLAH KAMI PADA HARI INI
MAKANAN KAMI YANG SECUKUPNYA — Yesus

Tulisan Sebelumnya »